3 tahun lalu ketika hari raya Qurban sudah dekat, ane mencadangkan uang 3,5 juta untuk membeli kambing. Pada saat itu harga pasaran kambing di daerah ane sekitar 2,5 - 3 jutaan, meski harga di atas 4 juta juga ada. Ane meminta tolong kakak perempuan ane di kampung untuk mencarikan kambing, dapatlah kambing dengan harga 3 juta. Ane setuju dan kemudian mengtransfer uang 3,2 juta ke rekening kakak ane. 3 juta untuk kambing dan 200rb untuk upahnya.
Dalam hati ane senang dan bergumam lumayan ada sisa 300 ribu bisa untuk jalan - jalan di liburan hari raya Qurban.
Tepat 1 hari sebelum hari raya Qurban, ada pesan singkat di Whatsapp masuk, nomernya tidak dikenal karena tidak ada dalam kontak ane. Tapi photo profile-nya adalah logo sebuah yayasan. Ane buka dan baca pesannya
… pengurus dan anak yatim di panti kami selama bertahun - tahun tidak pernah melakukan qurban dan kadang pula tidak mendapatkan daging qurban. Tahun ini kami sangat berharap bisa melakukan qurban meski dengan kambing kecil saja. Harga kambing yang kami niatkan 1,5 juta, Alhamdulillah kami dibantu ustad fulan, fulan, dan donatur lainnya tapi dana yang terkumpul kurang 300 ribu. Apakah kiranya kak Kusaeni berkenan melunasi kekurangan dana tersebut?..
kira - kira begitulah penggalan pesan Whatsapp yang ane terima.
Deg!!!. Ada perasaan aneh dan rasa linu yang menyusup di rongga - rongga dada yang membuat ane tertegun untuk sementara. Allah SWT , dia menuntut sisa uang yang sudah sejak awal ane siapkan. Ya Allah, sebercanda itu engkau.
Tak pikir panjang ane langsung balas pesan, “kekurangan 300 ribu biar ane yang lunaskan”. Ane buka aplikasi Livin dan transfer ke rekening yayasan anak yatim dan dhuafa tersebut.
3 tahun berselang.
Di sore yang dingin karena sedari pagi awan mendung menggelayut dan dengan malu - malu meneteskan hujan gerimis. Sejak sebelum maghrib ane sudah berniat untuk keluar membeli bakso supaya badan ini hangat.
Setelah selesai sholat maghrib, ane bergegas mengeluarkan sepeda motor dan kemudian menyusuri jalanan sepi yang masih tersisa air hujan. Sesampainya di warung bakso ane cari tempat parkir sendiri, pas setelah mengambil kunci motor eh datang tukang parkir lewat. Selama ini ane hampir ga pernah kasih duit ke tukang parkir disini karena dia sering menghilang saat pembeli datang dan nongol ketika pembeli hendak keluar untuk narik uang parkir. Sebenarnya warung bakso ini tak butuh petugas parkir tapi ya sudahlah.
Pesanan bakso ane datang, ketika mengaduk kuahnya agar sambelnya merata ane berkata dalam hati pengen sekali makan bakso yang pakai mie bihun warna putih (bihun, misoa) bukan yang bening (soun). Bersyukur kepada Allah SWT dengan mengucap Alhamdulillah karena bakso dan kuahnya enak. Selesai dan bayar ada kembalian 1 lembar uang 50 ribu dan beberapa lembar uang 10 ribu. Ane ambil 1 lembar uang 10 ribu dan masukkan ke dalam saku jaket sweater sebelah kiri. Dalam hati lagi ane mengeluh karena harus kasih duit 10 ribuan ke tukang parkir.
Saat menuju tempat parkir si tukang parkir raib entah kemana. Ane langsung ambil motor dan tancap gas. Di jalan ane lega karena masih punya duit 10 ribu untuk belanja minuman di Indomart.
Hujan rintik - rintik masih turun, udara dingin, dan langit semakin gelap, ane masih tancap gas menuju Indomart. Tak lama ane sampai. Di dekat pintu masuk Indomart ada seoarang anak perempuan yang berdiri sambil menenteng plastik berisi bungkusan makanan, mungkin nasi atau yang lain. Ane pernah lihat dulu sekali dan setelah itu tak pernah melihat dia berjualan disini. Dengan wajah masih belepotan bedak dia menawarkan dagangannya tapi tidak ada yang mau beli. Ane berjalan ke pintu Indomart dan dia datang sambil tersenyum dan menawarkan bungkusan itu, ane tanya dan dijawab isinya adalah mie bihun goreng ― harganya 10 ribuan.
Ya Allah…, ane bilang bahwa ane baru selesai makan sembari langsung masuk ke Indomart. Di dalam ane merasa datang lagi perasaan yang sama, seperti sembilu yang menyayat pelan di dalam dada. Ane meraba kantong sebelah kiri, disana duit 10 ribu itu masih ada. Ya Allah, sebercanda itu engkau.
Ketika keluar ane lihat si bocah masih berdiri disana, masih menenteng dagangannya yang sepertinya masih belum laku. Ane samperin dan tanya lagi berapa harganya, dia bilang 10 ribu saja. Tak pikir panjang ane rogoh saku sebelah kiri dan keluarkan untuk membeli.
Ya Allah, semoga engkau melunakkan hatiku, aamiin.

dari Fediverse
Kamu juga bisa meninggalkan komentar dari akun fediversemu dengan meng-reply di toot ini